Gue mau jujur soal satu hal: dulu gue tipe orang yang tiap pagi, sambil nyeruput kopi instan di meja kerja, langsung buka HP dan scroll berita. Judulnya apa? Ya yang biasa — konflik, krisis, PHK, bencana, pejabat korupsi. Lima menit kemudian, kopi belum habis, tapi mood gue udah ancur. Padahal jam kerja baru mulai.
Baru sadar belakangan: masalahnya bukan cuma berita buruknya. Masalahnya, kita hampir nggak pernah dikasih tahu kalau ada berita baik. Atau kalau ada, tenggelam di urutan kesekian belas, di bawah headline yang bikin jantung deg-degan.
Algoritma Nggak Salah, Tapi Juga Nggak Adil
Coba pikir sebentar. Feed berita kamu — entah di aplikasi portal, X, atau grup WhatsApp kantor — itu nggak netral. Dia dirancang buat bikin kamu engage. Dan apa yang bikin orang engage? Kebanyakan rasa takut, marah, atau khawatir. Berita "Jembatan di Desa X Selesai Dibangun" nggak akan bikin kamu komen panjang-panjang. Tapi berita "Harga Beras Naik Lagi" iya.
Jadi media massa punya insentif buat ngasih kita yang buruk-buruk. Bukan karena mereka jahat, tapi karena itu yang bikin klik. Ini yang jarang dibahas: kita sendiri yang melatih algoritma buat jadi tukang gosip bencana. Tiap kali kita klik, komen, atau share berita panik, kita bilang ke sistem, "eh, gue suka nih yang begini."
Efeknya ke pekerja kantoran kayak kita? Lumayan parah. Riset dari American Psychological Association beberapa tahun lalu nunjukin kalau konsumsi berita terus-menerus — apalagi yang negatif — berkorelasi sama kelelahan mental, susah fokus, dan rasa cemas yang nggak jelas sumbernya. Lo pernah ngerasa abis baca berita pagi-pagi udah pengen pulang aja? Nah, itu bukan kebetulan.
Yang Nggak Kita Sadari: Berita Baik Itu Ada, Cuma Kita Skip
Gue mulai iseng nyoba satu eksperimen kecil. Selama seminggu, tiap pagi gue sengaja nyari minimal satu berita baik sebelum buka email kerja. Hasilnya? Ternyata banyak. Ada desa yang akhirnya punya akses internet stabil. Ada startup lokal yang bikin alat kesehatan murah. Ada guru yang dapat penghargaan karena ngajarin coding ke anak-anak pesisir.
Masalahnya, berita-berita ini nggak punya "drama" yang cukup buat jadi headline utama. Mereka ada di halaman tiga, di kategori "daerah", atau di rubrik yang jarang dibuka orang. Kita nggak kekurangan kabar baik. Kita cuma kekurangan kebiasaan buat nyarinya.
Kita nggak kekurangan kabar baik. Kita cuma kekurangan kebiasaan buat nyarinya.
Dan ini penting banget buat pekerja kantoran, karena jam 9 sampai 5 itu penuh keputusan. Kamu ambil keputusan soal proyek, soal tim, soal klien. Kalau otak kamu udah jenuh sama berita negatif sejak jam 7 pagi, kualitas keputusanmu ikut turun. Bukan karena kamu nggak kompeten, tapi karena bandwidth mentalmu udah kepake buat hal yang nggak bisa kamu kontrol.
Kenapa Ini Jarang Dibahas di Kantor?
Karena ngomongin "berita baik" sering dianggap naif. Kayak kamu nggak peduli sama masalah negara. Padahal justru sebaliknya: orang yang mentalnya stabil itu lebih mampu bertindak ketimbang orang yang cuma bisa marah di kolom komentar. Kepedulian bukan berarti harus terus-terusan mengonsumsi yang bikin sakit.
Praktik Kecil yang Gue Lakuin (dan Bisa Kamu Coba)
Gue nggak bilang berhenti baca berita berat. Itu bodoh. Kita tetap perlu tahu apa yang terjadi. Tapi ada beberapa hal kecil yang gue ubah, dan lumayan ngefek:
- Atur jam baca berita. Gue pindahin konsumsi berita ke jam makan siang, bukan pagi. Pagi buat otak gue dulu, bukan buat drama orang lain.
- Follow akun yang bawa kabar baik. Ada beberapa akun dan newsletter yang khusus ngumpulin berita positif dari Indonesia. Sekali follow, feed kamu pelan-pelan berubah.
- Buat aturan "satu baik, satu buruk". Tiap kali gue baca satu berita berat, gue cari satu berita baik. Bukan buat menyeimbangkan penderitaan, tapi buat ngingetin otak kalau dunia nggak cuma soal bencana.
- Jangan share berita cuma karena panik. Tanya dulu: ini beneran perlu, atau gue cuma ikut arus?
Ini bukan solusi ajaib. Gue masih sering kelepasan doomscrolling jam 11 malam. Tapi setidaknya sekarang gue sadar kalau itu pilihan, bukan keharusan.
Buat yang Kerja di Kantor: Ini Bukan Soal Jadi Orang Positif Palsu
Gue nggak nyuruh kamu jadi orang yang senyum-senyum sambil bilang "semua akan baik-baik saja" padahal dunia lagi nggak baik-baik saja. Itu toxic positivity, dan gue juga muak sama itu. Yang gue maksud lebih sederhana: jaga asupan informasi kamu kayak kamu jaga asupan makanan.
Kalau tiap hari kamu makan junk food, badan kamu protes. Kalau tiap hari otak kamu disuapin berita negatif tanpa jeda, ya mental kamu protes. Bedanya, protes mental nggak selalu kelihatan. Dia muncul sebagai susah tidur, gampang emosi sama rekan kerja, atau rasa hampa tiap Minggu malam.
Jadi mulai besok, coba satu hal kecil: sebelum buka email kantor, cari satu berita baik. Nggak usah lama-lama. Cukup dua menit. Kalau ternyata susah nyarinya, berarti kamu baru nemu masalah yang lebih besar dari sekadar berita — kamu nemu bahwa kita semua perlu mulai sengaja nyari kabar baik, bukan cuma nunggu dikasih.
Dan kalau ada teman kantor yang tanya kenapa kamu lebih tenang belakangan ini, bilang aja: "Gue cuma ganti menu sarapan." Nggak perlu jelasin panjang-panjang. Kadang yang penting bukan beritanya, tapi kebiasaan kita ngehadapinnya.